KEINDAHAN GUNUNG IJEN
Indonesia tanah air beta sungguh asik untuk dijelajahi, keindahan alamnya
yang mempesona membuat kita terkagum-kagum. Bersama 4 teman,
menggunakan kereta api perjalanan saya dimulai dari Jakarta menuju
Surabaya untuk bertemu 10 teman lainnya. Dilanjutkan dengan kendaraan
roda empat menuju Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, tujuan kami adalah
Taman Wisata Alam Kawah Ijen. Ada dua rute untuk menuju Kawasan Wisata
Ijen yaitu melalui rute Kabupaten Bondowoso menuju Kecamatan klobang
atau melalui Kabupaten Banyuwangi menuju Kecamatan Licin dan berakhir di
Paltuding yang merupakan pos terakhir atau gerbang menuju Taman Wisata
Alam Kawah Ijen.
Tersedia banyak penginapan di Paltuding dengan
fasilitas dan harga beragam, sedangkan kami lebih memilih bermalam di
tenda. Sebelum pukul 02.00 WIB kami harus sudah bangun dan mempersiapkan
fisik. Makan dengan perbekalan yang ada atau hanya sekedar minum
minuman hangat. Pagi itu sebelum matahari terbit pendakian akan kami
mulai, sasaran kami adalah selain bisa melihat keindahan Kawah Ijen juga
bisa menyaksikan fenomena Api Biru atau biasa dikenal dengan Blue Fire
yang hanya bisa terlihat pada malam hingga dini hari.
Kawah Ijen
adalah danau air asam yang terbentuk akibat letusan Gunung Ijen
berkali-kali. Keasaman kawah ini hampir mendekati angka nol, sehingga
bisa melaturkan pakaian bahkan kulit. Kawah Ijen terletak di atas Gunung
Ijen, dengan ketinggian 2368 meter di atas permukaan air laut (mdpl)
bukan hal mudah mendaki gunung ini. Struktur tanahnya berpasir dan
berbatu krikil kecil yang menjadikan pendakian semakin licin.
Dari
Paltuding kami menyusuri jalan setapak jalur pendakian. Udara dingin
mulai terasa di kulit saya, mendaki di pagi buta dengan suasana yang
masih gelap tentunya yang tak boleh lupa adalah membawa lampu senter.
Tak ada pemandangan yang dapat kami nikmati selain kerlap-kerlip bintang
bertaburan di langit. Jarak dari Paltuding ke Kawah Ijen adalah sekitar
3 KM yang dapat ditempuh selama 2 jam dengan berjalan santai. 100 meter
di awal jalanan datar dan landai, selanjutnya jalanan mulai menanjak
dengan kemiringan bervariasi antara 25 – 35 derajat. Sulit menyamakan
ritme 15 orang dengan kondisi fisik dan stamina yang berbeda, sebagian
dari kami akhirnya tertinggal jauh di belakang.
Sepanjang jalan
tersedia pos-pos istirahat untuk sekedar duduk sambil mengatur nafas dan
menunggu teman yang tertinggal. Melewati 1 KM medan pendakian mulai
terasa semakin menanjak, saya pun mulai kesusahan untuk mengatur nafas.
Rupanya saya sudah disusul oleh seorang bapak penambang belerang, wah
cepat sekali bapak ini jalan atau saya yang jalan terlalu pelan. Saya
pun jadi semangat, berjalan sambil ngobrol dan bertanya-tanya. Namanya
pak Hadi usianya 49 tahun, bekerja sebagai penambang belerang
tradisional sudah ia lakukan sejak usia 14 tahun awalnya ia diajak oleh
Pamannya. Pak Hadi bilang 200 meter lagi sampai di Pos Timbang, ternyata
benar itu artinya 2 KM sudah saya lewati berjalan selama 1 jam lebih
dengan ketinggian 2214 mdpl. Melanjutkan perjalanan dengan medan yang
masih menanjak dan semakin menanjak, akhirnya menemukan juga jalan datar
dan landai tapi jalan setapaknya sangat sempit sehingga jika berpapasan
dengan penambang belerang atau wisatawan lain harus mengalah jalan
menepih. Bau belerang mulai tercium menyengat Kawah Ijen pun sudah
sangat dekat.
Sampailah saya di puncak Gunung Ijen, sedangkan
suasanan masih gelap. Di puncak sudah banyak wisatawan lain sebagian
besar dari mereka adalah warga negara Perancis, rupanya mereka sudah
dari tadi sampai di puncak. Sasaran mereka sama seperti kami yaitu bisa
menyaksikan fenomena Blue Fire sebelum matahari terbit. Konon fenomena
Blue Fire ini hanya ada 2 di dunia, satu lagi berada di Islandia.
Blue
Fire adalah api berwarna biru yang muncul di sela-sela bebatuan di
lokasi penambang belerang di bibir Kawah Ijen. Warna birunya semakin
mempercantik Kawah Ijen dikegelapan. Untuk menyaksikan Blue Fire kita
bisa turun menyusuri tebing kaldera berjalan di bebatuan di jalur
penambang belerang. Berhati-hatilah karna jalannya terjal belum lagi
asap belerang tertiup angin mengarah ke arah kita asapnya sangat perih
di mata. Jangan lupa memakai masker atau kain basah penutup hidung dan
mulut seperti yang dilakukan oleh penambang belerang.
Selesai
menyaksikan fenomena Blue Fire berjalanlah ke arah Timur, di balik
lereng Gunung Merapi Jawa Timur muncul matahari terbit yang sangat indah
menyinari puncak Gunung Ijen dan sekitarnya. Subhanallah sungguh indah
lukisan alam ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, decak kagum begitu melihat
Kawah Ijen terlihat sangat cantik berwarna hijau toska. Dikelilingi
dinding kaldera berwarna coklat dan abu-abu membingkai indah Kawah Ijen.
Sisa erupsi kegunungapian Ijen menjadikan dinding kaldera seperti
pahatan batu yang terlihat indah dari kejauhan. Di bawah Kawah Ijen
terlihat kepulan asap putih dengan belerang berwarna kuning.
Berada
di atas puncak dengan panorama yang sangat indah, rasa letih setelah
menempuh perjalanan jauh sirna berganti kekaguman. Berjalan menyusuri
tebing di atas Kawah Ijen ada banyak pemandangan menarik yang terlihat.
Gunung Merapi terlihat sangat dekat dan jelas dengan kabut tipis yang
masih menyelimutinya. Gunung Raung terlihat sangat jauh, kepulan asap di
puncaknya seakan mengisyaratkan bahwa ia adalah gunung api aktif,
sedangkan Gunung Meranti terlihat berdiri kokoh besar.
Selain itu
kita juga bisa menyaksikan aktivitas penambang belerang tradisional.
Kawah Ijen adalah pemasok belerang (sulfur) utama di Indonesia. Ada
sekitar 250 penambang belerang bekerja di sini. Mereka bekerja mulai
pukul 01.00 WIB berjalan dari Paltuding memikul keranjang bambu kosong
naik ke Gunung ijen dan menuruni tebing menuju Kawah Ijen. Di pinggir
Kawah Ijen itulah belerang berwarna kuning mereka galih dengan peralatan
yang masih sangat manual, mereka angkut lagi ke atas dengan medan yang
cukup terjal berbatu. Dalam sehari mereka bisa bolak-balik 1-2 kali
mengangkut belerang dengan beban kurang lebih 80 Kg. Untuk memudahkan
mereka bekerja secara estafet, belerang yang sudah mereka angkut ke atas
mereka tinggalkan di jalan, kemuadian mereka bisa turun lagi ke kawah
untuk menambang. Sedangkan penambang lainnya mengambil dan mengangkutnya
menuju Pos Timbang, di Pos Timbang inilah belerang-belerang tersebut
ditimbang dan dijual ke Perusahaan. Setiap hari mereka harus bekerja
dengan menghirup asap belerang yang mengandung racun, pekerjaan yang
sangat beresiko demi bisa menghidupi keluarga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar